play_circle_outline
Jadwal Tayangan
Hari ini
Acara selanjutnya
03.00 - 04.00 WIB
TAHFIDZ INTENSIF

04.00 - 04.30 WIB
WISATAHATI

04.30 - 04.50 WIB
KULTUM dan ADZAN

04.50 - 05.00 WIB
MUTIARA PAGI

05.00 - 05.13 WIB
KHASANAH ISLAM

05.13 - 05.20 WIB
DAQU MOVIE

05.20 - 05.30 WIB
DONGENG PAGI

05.30 - 06.00 WIB
KARTUN SYAMIL

06.00 - 06.30 WIB
SAHABAT QUR'AN

06.30 - 07.00 WIB
HIKMAH

07.00 - 07.30 WIB
T-NEWS

07.30 - 08.00 WIB
KULIAH DHUHA

08.00 - 09.00 WIB
TSHOP

09.00 - 10.00 WIB
TAHFIDZ INTENSIF

10.00 - 11.00 WIB
TAMAN SYURGA

11.45 - 12.00 WIB
KULTUM dan ADZAN

12.00 - 12.30 WIB
BINCANG EKONOMI SYARIAH

12.30 - 13.00 WIB
WISATAHATI

13.00 - 14.00 WIB
TSHOP

14.00 - 14.30 WIB
KHASANAH SEDEKAH

14.30 - 15.00 WIB
BUKA KITAB

15.00 - 15.07 WIB
DAQU MOVIE

15.07 - 15.27 WIB
KULTUM dan ADZAN

15.27 - 15.30 WIB
DAQU UPDATE

15.30 - 16.00 WIB
BEDAH BUKU

16.00 - 17.00 WIB
KAJIAN TAFSIR JALALAIN

17.00 - 17.30 WIB
KARTUN SYAMIL

17.30 - 17.37 WIB
DAQU MOVIE

17.37 - 17.40 WIB
DAQU UPDATE

17.40 - 18.00 WIB
KULTUM dan ADZAN

18.00 - 18.30 WIB
T-NEWS

18.30 - 19.00 WIB
WISATAHATI

19.00 - 19.15 WIB
KULTUM dan ADZAN

19.15 - 19.18 WIB
DAQU UPDATE

19.18 - 19.30 WIB
KHASANAH ISLAM

19.30 - 20.00 WIB
BINCANG EKONOMI SYARIAH

20.00 - 20.30 WIB
TAFSIR AL-HIKAM

20.30 - 21.00 WIB
PARA PENGHAFAL ALQUR'AN

21.00 - 22.00 WIB
TAMAN SYURGA

22.00 - 23.00 WIB
KAJIAN TAFSIR JALALAIN

23.00 - 23.59 WIB
TSHOP

keyboard_arrow_left
 

Berita
Nganggur itu Pilihan, Bukan Nasib
Diupload pada ( 06-11-2017/00:00 ) oleh ( ) | Total dibaca ( 399 )

BAPAK yang sudah renta itu mondar-mandir gelisah di tengah rumah. Anak pertamanya sudah enam bulan setelah lulus dari fakultas pertanian di salah satu universitas negeri belum kunjung mendapatkan kerja. Kesehatan bapak tua itu sudah tertelan sia dan hanya anak pertama ini yang bisa menjadi tumpuan membantu ketiga adiknya bersekolah.

Keringat yang dia peras untuk biaya kuliah dengan berjualan sayur di pasar dirasakan tidak membuahkan apa-apa. Anak kesayangannya hanya menjadi pengangguran sukarela. Pengangguran atas pilihannya sendiri. Bekerja dengan upah rendah tidak mau diterima sebab tidur di rumah lebih baik daripada bekerja dengan upah kecil, pikirnya.

Dengan gusar dan sedikit memaksa, bapak itu berkata pada anaknya suatu kali, “Besok pagi jam dua kamu harus pergi jualan sayur, menggantikan Bapak di pasar.”
Si anak mengernyit. Ia segera berujar, “Saya malu, pak. Saya insinyur pertanian. Mengapa saya harus jualan sayur di pasar?” “Apa orang di pasar mengenal kamu dan peduli sama kamu kalau kamu seorang insinyur? ”

Anaknya tertunduk diam tidak mampu memberikan jawaban.

Saat pagi buta, akhirnya anak itu terpaksa menggantikan bapaknya berjualan di pasar. Ketika berjualan, dia merasa tidak ada yang memerhatikan dia. Tidak ada yang peduli bahwa dia seorang insinyur. Semua sibuk dengan aktivitas menjual dan membeli. Si anak pun akhirnya larut membaur. Dengan pengetahuan yang ia miliki sebagai insinyur pertanian, dia menjual sayur sembari menerangkan kandungan-kandungan gizi dan vitamin di dalam sayur.

Ketika pulang dari pasar, bapaknya bertanya, “Apa ada yang peduli sama kamu bahwa kamu seorang insinyur?” Si anak menggeleng. “Apa ada yang menghina kamu jualan sayur sebab kamu bergelar insinyur?” Si anak kembali menggeleng. “Bagus. Sekarang kamu sudah belajar, Nak.” Teruskan dan abaikan rasa sombong dalam dirimu.” Karena didukung pendidikan dan pengetahuan tentang sayur-mayur, akhirnya jualan sayurnya menjadi yang paling laku di pasar. Setahun kemudian, dia telah menjadi pengusaha sayur terkenal.

Pengangguran itu pilihan, bukan nasib. Jadi, bekerjalah semampu kita dan kita akan menjadi orang terhormat.