play_circle_outline
Jadwal Tayangan
Hari ini
Acara selanjutnya
18.30 - 19.00 WIB
KISAH NABI DAN RASUL

19.00 - 19.15 WIB
KULTUM dan ADZAN

19.15 - 19.18 WIB
DAQU UPDATE

19.18 - 19.30 WIB
KHASANAH ISLAM

19.30 - 20.00 WIB
KUOTA

20.00 - 23.00 WIB
INDONESIA BERJAMAAH

23.00 - 23.59 WIB
TSHOP

keyboard_arrow_left
 

Berita
Umar Takut Jika Menelantarkan Rakyatnya
Diupload pada ( 28-12-2016/00:00 ) oleh ( ) | Total dibaca ( 616 )

SIAPA yang tak mengenal Umar bin Khaththab? Khalifah kedua setelah wafatnya Rasulullah ini pasti sudah tidak asing lagi kita baca kisah-kisahnya. Bahkan Umar terkenal sebagai Khalifah yang begitu menyayangi rakyat-rakyatnya. Hal ini terbukti dengan kisah-kisah Umar yang menghabiskan waktunya untuk mengurusi rakyat-rakyatnya.

Muawiyah bin Hudaij radhiallahu ‘anhu datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan tunggannya. Kemudian keluarlah seorang budak wanita. Budak itu melihat penat Umar setelah bersafar. Ia mengajaknya masuk. Menghidangkan roti, zaitun, dan kurma untuk Umar. Umar pun menyantap hidangan tersebut. Kemudian berkata keapda Muawiyah, “Wahai Muawiyah, apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir di masjid?” “Aku katakan bahwa Amirul Mukminin sedang tidur siang”, jawab Muawiyah.

Umar berkata, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan dan alangkah jeleknya apa yang engkau sangkakan. Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah?”

Mungkin Muawiyah bin Hudaij bermaksud kasihan kepada Umar. Ia ingin Umar beristirahat karena capek sehabis bersafar. Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinnya, sehingga mereka rela jika Umar beristirahat. Tetapi Umar sendiri malah khawatir kalau hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginannya mereka kepadanya.

Umar berkata, “Jika ada seekor unta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban kepadaku karena hal itu.”

Karena unta tersebut berada di wilayah kekuasaannya, Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika unta itu mati sia-sia; karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat.

Berkaca pada keadaan kita jalan berlubang sehingga banyak yang celaka, banjir, macet, tidak aman di jalanan, dan lain sebagainya. Diklaim sebagai pemimpin yang adil dan amanah. Memang standarnya berbeda.

Pada saat haji terakhir yang ia tunaikan dalam hayatnya, Umar radhiallahu ‘anhu duduk bersimpuh kemudian membentangkan rida’nya. Ia mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah langit. Ia berucap, “Ya Allah.. sungguh usiaku telah menua dan ragaku kian melemah, sementara rakyatku semakin banyak (karena wilayah Islam meluas pen.), cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak disia-siakan.”[]

Sumber: kisahmuslim